cerpen

chainharjon
Bayangan Masa Lalu
(Chain Harjon)
Matahari kini hampir tenggelam kembali ke peraduannya. Bercak-bercak cahaya keemasannya yang telah mewarnai bumi berlahan sirnah. Kegelapanpun berlahan nampak mendekat seirama bercak-bercak cahayanya yang hilang di telan bumi. Bintang-bintang di angkasa  pun kembali menghiasi malam. Cahaya rembulan demikian tak mau mengalah ‘tuk tampil megah penuh pesona.
Aku berdiri rapi dalam barisan itu, dalam deretan wajah cemerlang dan tubuh yang berselimutkan jubah putih di depan altar. Ribuan mata memandang, tak berkedip menyaksikan seremoni yang dinanti-nantikan. Pengikraran kaul pertama. Yah, sesuatu yang sangat istimewa dalam sepanjang sejarah hidup. Bagaimana tidak, ini merupakan suatu karunia istimewa bagiku dan bagi ke 18 konfraterku yang lain. Kami telah berjuang bersama sebagai sebuah angkatan yang kecil penuh gelora. Bersama-sama meraih apa yang telah menjadi impian terdalam hati. Dan kini bukanlah lagi menjadi mimpi. Impian terdalam itu telah di depan mata. Memeluk-Nya tinggal sekejap mata, untuk yang pertama dan yang terakhir kali.
Deretan bola mata yang terjaga itu memancarkan cahaya kebahagian. Aku pun berbahagia, layaknya seorang yang berbahagia karena telah sampai pada titik akhir perjuangan. Mendapatkan sorakan. Mendapatkan tangisan kebahagian serta mendapatkan piala kemenangan. Pantas! Terutama karena aku memang pantas. Maka, tiada satu pun ragu terlintas dalam sanubariku dikala mengucapkan janji suci abadi itu. Kulakukan semuanya itu dalam suasana hati penuh sukacita.
***
Seremoni itu berakhir. Hatiku menyentakkan kakiku tuk melangkah ke luar dari barisan wajah tampan itu. Selangkah, dua langkah dan tiga langkah aku berjalan. Tak jauh. Tapak-tapakku pun dapat dihitung dan masih sangat jelas, kalau itu tapak-tapak milikku. Seketika aku berdiri kaku, membeku. Berat kakiku tuk mengayunkan langkah, karena sesosok tubuh memelukku erat tak bersarat. Ada apakah gerangan? Milik siapakah tubuh itu? Aku hanya merasakan dingin air matanya yang jatuh berantakan membanjiri tubuhku. Sebab sang  pemilik tubuh itu memalingkan wajahnya bersembunyi di balik jubahku. Lama aku berdiri kaku. Lama air mata itu membuatku beku.
 “Anakku, ini aku.  Aku terharu, menangis bahagia melihat kamu menjadi seorang calon imam religius. Aku akan selalu menjadi yang pertama mendukungmu di antara ribuan wajah yang pernah kamu kenal, yang sangat mencintai panggilanmu.”
Seketika itu juga tubuhku mencair bak es batu yang mencair terbakar oleh corong cahaya mentari. Suara itu. Kata-kata itu. Tak lagi asing bagiku. Suara itu milik sang pemilik wajah tua itu.
“Ibuu... Aku sangat bahagia ibu datang di hari istimewaku ini!”
 Kumemeluk ibuku dengan sangat erat. Air mataku pun jatuh berderaian tak dapat lagi kubendung.
“Ibu, terimakasih..... Ibu sudah datang untukku.” 
Kumemeluk ibuku lebih erat. Lagi dan lagi. Sampai aku tenggelam dalam pelukannya. Aku tak tahu seberapa lama aku tenggelam dalam hangatnya pelukan itu. Satu yang kutahu pasti, aku telah mengukir sejuta mimpi yang menghiasi kalbu rinduku dalam pelukan itu. Aku pun terjaga.
”Ah, ibu...! Ibu.... Tidak mungkin....! Ibu telah lama pergi bersama waktu lima tahun yang lalu.” Ini hanya halusinasiku.
Aku pun meneruskan langkahku ‘tuk duduk di antara deretan para wajah berseri itu yang sedari tadi menungguku di tempat  resepsi.
***
Senja terus merangkak cepat bak lalunya arus waktu yang begitu cekat di mana tak seorang pun dapat membendung gelora arusnya. Aku pun terus terhanyut, berkecamuk bersama lalunya waktu. Waktu terus menghantarku sampai aku dapat berdiri tegak di atas wadas yang kokoh ini sebagai seorang gembala umat. Banyak kisah. Banyak pengalaman suka dan duka telah kugores dalam lembaran sejarah hidupku, bersama waktu yang menjadi saksi bisu atas semuanya itu. Ada kisah di mana aku sungguh merasa yakin, semangat dan bersukacita. Dan  ada pula kisah, di mana aku kembali berefleksi, jatuh dan benar-benar menangis putus asa. Namun semuanya justru membuatku begitu kokoh dan kuat, serta benar-benar mengerti tentang arti terdalam panggilan hidupku.
 Semenjak mentari pagi menari-nari di atas ubun langit, handphoneku selalu terjaga. Banyak deretan angka beralamat mengucapkan selamat atas hari ulang tahun imamatku yang pertama. Ada banyak nama, ada banyak pilihan kata terucap.
“Romoku yang paling baik... Selamat hari ulang tahun imamat yang pertama. Semoga tetap setia dan selalu antusias menggembalakan domba-domba-Nya.”  
Demikianlah salah satu bunyi pesan di inboxku. Namun di antara deretan kata beralamat itu, ada satu deretan kata tanpa nama mengucapkan profisiat atas hari ulang tahun imamatku. “Kaka Pater....salam rindu... selamat ulang tahun imamat...... ini aku.”
Aku terkesiap. Jantungku bergetar kencang tak karuan. Sebab bagaimana tidak, di antara deretan kata yang terucap, hanya satu ini yang kurasakan jauh berbeda. Bukan saja karena isi pesannya, tetapi juga karena ketidakjelasan pemiliknya. Aku kembali membaca pesan itu dan berusaha mengingat-ingat kembali siapakah pemilik nomor misterius ini. Pikiranku terus berkecamuk dan pencarianku tak berujung.
“Siapakah pemilik nomor misterius ini? Apakah dia orang yang pernah kukenal? Akankah aku membalasnya saja? Tapi aku sungguh tak nyaman membalas pesan yang beralamat kurang jelas!”, gumanku. “Ah, jangan sampai ini hanyalah bayang-bayang. Masa laluku memang selalu membelengguku. Tapi, ini nyata. Pesan ini benar-benar nyata”, batinku berpekik pedih.
Senja perlahan merangkak pergi. Bad day. Itulah kesan dari percikan sinar mentari yang kini lelah dan kembali bersembunyi di balik rahim bumi. Di penghujung senja itu, di kala pikiranku masih berkecamuk memikirkan nomor misterius itu, tiba-tiba bel berbunyi. Kesunyian pun serentak dipecahkan oleh deringan bel itu. Aku pun bergegas ke luar kamar untuk menemui tamu yang berkunjung.
“Sore kaka Pater.....!”
Demikianlah suara lembut milik wajah cantik nan ayu itu menyapaku.
 “Sore juga.... Ohh....ka....ka..mu..!”
Seketika itu juga mulutku menganga lebar seperti tanah kering di musim kemarau panjang. Aku tak mampu berkata menyapa dr. Angel yang berdiri sejajar di hadapanku. Lama aku menatap wajah ayu itu. Sampai aku pun terlelap kembali ke dalam memori lamaku.
Memori indah itu kembali hidup. Demikianlah aku seakan hidup lagi di masa yang silam sewaktu aku bermesraan dengan Angel saat aku masih menjalani masa TOP di parokinya. Waktu itu Angel masih berstatus sebagai seorang mahasiswi kedokteran ternama di Australia dan ia sedang berlibur. Di penghujung waktu malam itu, Angel memberikan mahkota terindahnya untukku.
“Kaka Pater ini aku.... Angel..!”.
Angel mendekatkan tubuhnya ke tubuhku.
“Ka....aku nyata. Ini aku Angel yang dulu. Aku datang untuk memenuhi janji kita. Janji kita di penghujung malam kala itu.”
Aku tahu apa yang dirindukan dan diinginkan Angel. Tapi sekarang aku seorang imam.
“Angel, maafkan aku. Aku tak bisa memenuhi janji itu. Aku salah...!”
Air mata membanjiri wajah cantiknya. Air mata bening itu mengalir penyesalan yang sangat mendalam.
“Aku tahu itu. Tapi aku.... aku terlanjur mencintaimu. Kau ingat malam itu aku memberikan mahkota terindahku untukmu. Dan kau berjanji menanggalkan jubahmu. Namun  inikah akhirnya? Setelah kau mencuri mohkota terindahku, kau tetap berani menjadi imam. Siapakah yang ingin menikahiku lagi, sementara aku tak lagi suci. Kau tega....!”
Aku tak lagi mampu berkata-kata. Bibirku seakan terkunci rapat oleh rantai kebisuan. Aku salah. Aku berdosa. Tapi aku tak mau meninggalkan imamatku. Aku tak mau jatuh untuk yang kedua kalinya.
 “Angel maafkan aku... Aku mencintaimu, tapi aku tak bisa memilikimu lagi. Aku tak mau berpaling dari Sang Cinta Sejati itu untuk kedua kalinya.”
 “Tapi di manakah kata-katamu itu dulu? Aku muak dengan ucapanmu!”
Angel berlari, mengendarai mobilnya  meninggalkanku. Air matanya meleleh menemaninya sepanjang perjalanan.
“Angel.... dengarkan aku..!”
Aku berteriak menahan dr. Angel pergi, tapi sia-sia. Ia pergi tanpa permisi, membawa sejuta dukalara di hati.
*****
Waktu berselang. Hari-hari hidupku setelah perjumpaan dengan dr. Angel, selalu dihantui oleh bayang-bayang. Bayangan masa lalu itu terus berkecamuk dan melandaku. Kerapkali dalam memimpin perayaan ekaristi, aku tidak fokus. Semangat pelayananku pun menurun drastis. Ekaristi yang biasanya dirayakan setiap pagi hari, kini digeser ke sore hari oleh karena aku sering bangun kesiangan.
“Tuhan, sampai kapankah aku harus bertahan hidup dalam suasana seperti ini? Aku tahu, aku pernah mengukir sejarah di masa lalu. Tapi mengapa aku harus menderita karenanya? Kini masa lalu itu datang kembali menepati janji, tapi haruskah aku jatuh untuk keduakalinya?”. Jiwaku tertekan dan gelisah.
Tengah malam bulan kala itu, aku tak lagi menahan diri menemui sang dewi cinta. Di hadapan arcanya aku menumpahkan segala rasa hatiku.
“Bunda aku tahu, jikalau engkau tak pernah menolak siapapun yang datang kepadamu dan tak pernah mengecewakan orang yang selalu berharap pada pertolonganmu. Aku tahu, aku tak pantas ada dekatmu, namun kupercaya selalu bahwa tiada yang lain lagi bagiku yang dapat menolongku di tengah kegentaran seperti ini. Hanya engkaulah satu-satunya bagiku yang dapat mengahantar aku kepada pangkuan putramu, Yesus. Bantulah aku ya, bunda ‘tuk ke luar dari persoalan ini.”
Aku menangis dan benar-benar menangis. Lilin-lilin kecil yang menerangi malamku pun meleleh, seperti turut menangis bersamaku. Semakin lama aku menangis, semakin ia meleleh dan terus meleleh, lalu semakin lama cahayanya redup dan mati. Seketika itu juga gelap kembali meliputi malam yang gelap, namun hatiku merasa legah dan damai. Sungguh, Tuhanku telah  terbitkan terang baru dalam batinku. Batinku tak lagi tersesak, jiwaku pun terasa damai meskipun aku tengah berada di malam yang gelap dan pernah berada di dalam kegelapan.


Comments